Demonstrasi yang memakan waktu sekitar 4 jam itu dimulai dari depan hotel Garuda, utara Malioboro, Yogyakarta, kemudian massa melakukan aksi jalan kaki hingga ke pusat Yogyakarta, nol kilometer. Sekitar ratusan mahasiswa yang tergabung dalam garakan SUP ini terlihat membawa tuntutan mereka, sesekali berhenti untuk berorasi.
Bukan hanya busung lapar di Tambrauw yang jadi perhatian SUP. Rentetan peristiwa serupa pernah terjadi di banyak tempat di Papua, seperti di Kabupaten Yahukimo tahun 2005 dan 2009, tercatat 220 jiwa meninggal. Juga di kabupaten Dogiyai tahun 2008; wabah muntaber yang menelan korban hingaa mencapai 239 jiwa,j uga di tempat lain, tulis SUP dalam press releasenya.
Sikap pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah terhadap peristiwa ini membuktikan bahwa ada indikasi pelanggaran HAM dan Genosida secara sistematis/struktural yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua, tulis SUP lagi.
Dalam aksi itu, SUP menuntut 7 hal. Pertama, pemerintah pusat, dan daerah, dan dinas kesehatan harus bertanggungjawab atas musibah yang terjadi di kabupaten Tambrauw.
Kedua, tim kesehatan harus datang ke seluruh desa. Ketiga, buka ruang seluasnya dan segera bentuk tim investigasi independen untuk melakukan penyelidikan terkait kasus kematian massal. Keempat, SUP menuntut kesehatan gratis untuk rakyat Papua.
Kelima, Cabut Otsus, UP4B, hentikan pemekaran wilayah, dan alihkan dananya untuk memperbanyak rumah sakit, tenaga medis, obat-obatan, dan makanan sehat di seluruh tanah Papua.
Keenam, usut tuntas kasus pelanggaran HAM di seluruh tanah Papua. Terakhir, SUP menuntut untuk menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis dan tim investigasi independen di seluruh tanah Papua. (Bastian Tebai/Yakobus Dogomo/MS)
Editor : Mateus Ch. Auwe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar