Dipenjarakan karena sebuah keyakinan ideologi setelah divonis pemerintah Jakarta. Terbunuhnya almarhum Dr. Thom Wainggai saat masih menjalani masa tahanannya selama 20 tahun penjara dan mendekam di Lp Cipinang Jakarta waktu itu. Ah..kematian almarhum jauh dari yang tak dipikirkan oleh saya, timbul pertanyaan dalam diriku, dengan secepat itu kah kau pergi tanpa pesan? Saya pun mendapat informasi ini ketika satu staf Palang Merah Internasional perwakilan Papua mengkhabarkan ke rumah bahwa almarhum Dr Thom Wainggai baru saja meninggal beberapa jam yang lalu. Tersentak, duduk dengan membasuh air mata, katapun tak terucap, hati ini bercampur sedih, keluarga hanya bisa menangis, rakyat Papuapun berduka, dengan kepergianmu, walaupun kau pergi, kau adalah inspirasiku, membaca satu artikel Headline News/ media masa Indonesia di Papua menulis : Kepergian Nelson Mandelanya Irian Jaya sebutan nama Papua Barat saat itu.
Pemuda/i Papua yang selama ini terkenal dengan sifat sopan- santun dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, berubah bagaikan burung kasuari jahat yang siap menyerang dan menendang siapa saja yang melintas didepan matanya.
Kepergian sang pahlawan,ternyata menjadi titik awal kebangkitan nasional Papua ke- 2 dalam sejarah perjuangan bangsa Papua. Kepergian sang pahlawan meninggalkan luka hati yang dalam dan sekaligus membangkitkan dan mewariskan nilai-nilai kepahlawanan yang melekat disudut hati insani Papua khususnya pemuda pelajar dan mahasiswa di Papua.
Akhirnya banyak pemuda/pelajar mahasiswa yang lari bersembuyi ke kampung-kampung bahkan kami beberapa yang sempat melarikan diri ke Papua New Guinea, seorang dosen muda UNCEN saat itu atas nama Drs. Frans Fredrik Kapisa yang mengorganisir mahasiswa dalam rangka penjemputan jenasah turut tertangkap dan menjalani pemeriksaan di berbagai kesatuan militer, KODAM,KOPASSUS dan terakhir POLDA dan akhirnya dijebloskan dalam tahanan POLDA.
Sedangkan ditempat lainnya berhasil telah menyeberang ke Papua New Guinea, beberapa teman-teman muda lainnya harus hidup untuk beberapa bulan di markas Victoria, selanjutnya keluar menuju kamp-kamp pengungsi (Manus maupun Kiunga) dari tahun 1996 -`1999 digaris bawahi bahwa perjuangan ini perlu membutuhkan sebuah NATIONAL BODY yang mengakomodinir semua elit-elit politik Papua Barat untuk diposisikan keberadaan mereka dalam satu kesatuan gerakan nasional di era reformasi.
Saat itu tidak terpikir oleh teman-teman muda bahwa nanti akan ada kongres yang melahirkan PDP di tahun 2000.
Makanya setelah kurang lebih satu bulan keberadaan di Vanuatu di tahun 1999, Junus Wenda dan saya harus kembali dari Vanuatu ke tanah Papua Barat untuk bertemu dengan teman-teman muda lainnya di kampus Universitas Cendewarasih/ UNCEN guna memikirkan perlu adanya perbaikan kepemimpinan structural OPM.
Maksud ini tidak tercapai karena keterbatasan financial untuk menghimpun semua elit politik Papua dalam dan luar negeri.
Walaupun demikian semangat nasionalis teman-teman pada akhirnya dipikirkan oleh Solidaritas Nasional Mahasiswa Papua Barat/SONAMAPA maka lahirlah Awawi meeting tahun 2000 dalam sebuah kesepakatan untuk memposisikan srtuktural kepempimpinan dalam negeri sebagai pergerakan bagaimana pentingnya persatuan dan kesatuan nasional.
Timbul image yang di ciptakan musuh bahwa ini kelompok bintang empat belas dan itu bintang satu dan lain sebagainya yang sangat mempengaruhi openi masayarakat Papua Barat di era reformasi saat itu, terlebih lagi akan membingungkan dukungan masyarakat dunia terhadap perjuangan pembebasan Papua pada umumnya.
Latar belakang pertemuan Awawi ini sempat bisa terjadi karena sebelumnya terjadi pertemuan antara ketua Demmak Benny Wenda ,Dr. Jacob Rumbiak ( Menlu WPNA), Edison Waromi (Executive WPNA), Junus Wenda dan Herman Wainggai serta beberapa teman-teman aktifist lainnya dari SONAMAPA, AMP lainya sempat membuat meeting-meeting kordinasi di Sabron River di sentani, kemudian kelanjutan di Dok V atas, Port Numbay, West Papua.
Walaupun begitu kita semua tahu bahwa telah terbentuknya PDP di tahun 2000, dan dari internal meeting diprediksi pemuda pelajar /mahasiswa Papua Barat waktu itu masih mengsangsikan kepemimpinan PDP ? Hal ini sempat dibuktikan dengan sebuah pernyataan tertulis mosi tidak percaya yang dikeluarkan oleh bapa Mathias Wenda dari TPN OPM dan didukung oleh pergerakan SONAMAPA atau elit mahasiswa lainnya waktu itu untuk menarik diri dari PDP dan pernyataan tersebut dibacakan oleh salah satu anggota Solidaritas Nasioanal Mahasiswa Papua Barat di lapangan Trikora pada desember 2000.
Setelah pembacaan mosi tidak percaya diatas maka agenda mahasiswa pemuda pelajar selanjutnya saat itu adalah pembenahan structural kepemimpian militer TPN/PB. Pendekatan-pendekatan yang sempat dibuat termasuk kunjungan tim fasilitator Sonamapa ke kaka Nico Ipohao, Mathias Wenda, Tadius Yogi, Kelly Kwalik, Bernardus Mawen, Richard Yoweni dan juga pendekatan tim fasilitator Sonamapa meminta waktu ke petinggi -petinggi PDP waktu itu untuk berdiskusi perlu mendorong pertemuan elit tapol, bersama PDP , TPN PB OPM sampai terus berkelanjutan dari 2001 hingga 2004.
SHARING MEETING SYDNEY TAHUN 2001 :
George Aditjontro, Yohanes Bonay/Mantan Ketua Elsham Papua, Benny Giay, John Ondawame, Rex Rumaikek, Dolly Songgonao, Jacob Rumbiak dan Herman Wainggai di sebuah restoran di Sydney sehabis konferensi yang diadakan oleh Papua Project dari Sidney University di bulan Desember tahun 2001. Agenda plan membicarakan bagaimana peran pemuda pelajar dan mahasiswa mendorong adanya sebuah rekonsiliasi nasional yang nyata guna mewujudkan UNITY dan KEPEMIMPINAN NASIONAL.
Hal-hal lain yang menyangkut taktik dan strategis kita lanjutkan di flatnya Rex Rumaikek di Sydney malam itu juga.
Mungkin atau barangkali catatan saya ini sudah lama dan hampir tak lupa tentang pembicaraan diskusi malam itu di flatnya REX RUMAIKEK di Sydney pada bulan Desember tahun 2001. Ada beberapa catatan penting yang saya tulis tentang diskusi kami tentang plan taktik dan strategis di tahun 2001 - 2005 untuk difollow up. Walapun mungkin tidak ingat atau sudah lupa tapi catatan harian diary inipun tak akan di hapuskan sekalipun mungkin kita bisa lupa titik maupun koma, sebab malam itu adalah malam yang memotivasi saya untuk kembali ke tanah air/ Papua Barat esok harinya, dan selanjutnya akan bertemu teman-teman muda aktifist di Papua Barat guna mendukung dan mengiplementasikan program yang telah dibahas di Sydney saat itu demi mendukung kerja-kerja kita semua nanti nya diluar negeri khususnya di wilayah Pasifik, Australia sampai ke benua Amerika.
Sekembalinya saya dari Sydney ke Papua, saya menyampaikan hasil pembicaraan kami di Sydney kepada para aktifist pemuda pelajar mahasiswa PB dan merekapun mendukung hal tersebut. Kemudian merealisasikan pembicaraan kita maka terbentuk dan lahirlah United West Papua National Front For Independence/UWPNAFFI yang difasilitasi serta disaksikan oleh bapa Tony Bais (saat ini almarhum), Sir Michael Somare (Mantan PM PNG ), dan beberapa tokoh kunci pendiri negara PNG lainya. Setelah lahirnya UWPNAFFI para pemuda pelajar mahasiswa yakin bahwa lembaga ini akan meyakinkan para pemimpin Pasifik islands forum / PIF di Fiji pada Agustus tahun 2002 untuk menjawab penolakan PIF terhadap delegasi Papua di Nauru pada tahun 2001.
Dan benar bahwa ketika PIF berlangsung di Suva di Fiji, saat itu, delegasi Papua Barat disambut dan dihormati sehingga saat itu teringat oleh saya bahwa masalah PB berhasil dituangkan dalam komunike no 33 PIF, masalah Papua menjadi isu hangat ( Ketika itu Michael Somare di jemput oleh John Howard dari PNG ke Australia dan Fiji).
PIF tahun 2002 dihadiri oleh UWPNAFFI yang beranggotakan empat orang delegasi dari dalam negeri ( Alberth Sefnath Kaliele, Frans Kapisa, Fera Kambu dan Herman Wainggai), satu utusan PNG ( Francis Mirino Sekjen West Papua New Gunine National Congress/ WPNGNC), Rex Rumaikek dari Fiji dan Jacob Rumbiak dari Australia. Kepala surat dari dokumen yang diserahkan kepada Sekjen PIF ketika itu dan CC kepada 16 negara anggota PIF adalah United West Papua National Front For Independence. Surat ini ditanda tangani oleh masing-masing delegasi yang hadir saat itu sebagai bukti nyata kepada 16 negara anggota PIF bahwa rakyat Papua telah memenuhi tuntutan internasional yakni Unity dan Political Leadership. Kehadiran delegasi UWPNAFFI di terima, di hormati dan dihargai saat ke Fiji saat itu, dan delegasi PB memiliki penghormatan tersendiri ketika diundang oleh mantan PM Fiji saat itu, Laisena. Hal ini merupakan modal dasar untuk kesekian kali lagi perjuangan diplomasi Papua Barat dimulai dari kawasan di pasifik dan Australia khususnya.
Setahun kemudian, ketika delegasi PB mengahadiri PIF di Auckland, New Zealand pada tahun 2003, masalah Papua Barat menjadi perdebatan hangat yang kemudian mendapat tempat diberbagai media-media elektronik dan cetak di New Zealand dn Pasifik. ( Masih teringat jelas surat khabar terkemuka di New Zealand halaman terdepan mengekspos perjuangan Papua Barat yang tercover bagian depan photo kaka Jacob Rumbiak memakai cawat / pakaian traditional PB dimana photo Jacob Rumbiak sengaja dibuat oleh photo jurnalis ketika itu lebih besar dari photo PM Australia John Howard , PM Helen Clark dari New Zeland dan PM Laisenia Carase dari Fiji.
Nama UWPNAFFI dirubah menjadi United West Papua National Council for Independence (UWPNACI) pada 2004 atas saran para pakar hukum dan politik internasional yang adalah staf ahli dan patron dari pada UWPNAFFI sebagai upaya menghindari kecurigaan negara-negara besar seperti USA dn sekutunya terhadap network terrorist, karena pada umumnya istilah front digunakan oleh kelompok-kelompok yang diklasifikasikan sebagai kelompok terrorist.
Pertemuan guna membahas perubahan kata dari front ke Council ketika itu terjadi kemblai lagi di Wewak di bulan July tahun 2004 dan turut hadir Filep Karma, Jusak Pakage, 2 anggota perwakilan AMP lainya, Sonamapa, perwakilan Tapol serta anggota perwakilan TPN/PB di PNG lainnya.
Tindak lanjut dari semua ini, teman-teman/ pemuda pelajar dan mahasiswa melihat dan merasakan adanya sebuah kemajuan kearah pemenuhan syarat berdirinya sebuah Negara maka dideklarasikannya West Papua National Authority yang adalah political transition government Papua Barat yang telah memiliki Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif pada saat itu atau kini dimana beberapa minggu yang lalu WPNA menjadi perhatian dan pembahasan serius pemerintah daerah tingkat propinsi Papua di tanah Papua dan pemerintah RI di Jakarta kususnya: Kemudian dilanjutkan dengan sangat jelas melalui Kopassus report, Badan Inteljen Nasional Indonesia atas nama pemerintah Indonesia mendeteksi aktifitas political movement Otoritas Nasional Papua Barat dan sempat dipublikasikan oleh beberapa surat khabar/Newspaper terkemuka di Australia dan jaringa media luar negeri umumnya
Alasan kuat pemerintah Jakarta menilai aktifitas politik perjuangan rakyat Papua Barat selama ini bersama elit elit pemimpin WPNA adalah sudah tentu menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI karena :
· WPNA menunjukan EMBRIO lahirnya SEBUAH NEGARA BARU PAPUA BARAT sangat jelas dan terbuka.
Dipenjarakan karena sebuah keyakinan ideologi setelah divonis pemerintah Jakarta. Terbunuhnya almarhum Dr. Thom Wainggai saat masih menjalani masa tahanannya selama 20 tahun penjara dan mendekam di Lp Cipinang Jakarta waktu itu. Ah..kematian almarhum jauh dari yang tak dipikirkan oleh saya, timbul pertanyaan dalam diriku, dengan secepat itu kah kau pergi tanpa pesan? Saya pun mendapat informasi ini ketika satu staf Palang Merah Internasional perwakilan Papua mengkhabarkan ke rumah bahwa almarhum Dr Thom Wainggai baru saja meninggal beberapa jam yang lalu. Tersentak, duduk dengan membasuh air mata, katapun tak terucap, hati ini bercampur sedih, keluarga hanya bisa menangis, rakyat Papuapun berduka, dengan kepergianmu, walaupun kau pergi, kau adalah inspirasiku, membaca satu artikel Headline News/ media masa Indonesia di Papua menulis : Kepergian Nelson Mandelanya Irian Jaya sebutan nama Papua Barat saat itu.
Berita tanggal 12 dan 18 Maret 1996 akibat pengiriman jenasah almarhum Dr Thomas Wainggai dari Jakarta dikirim ke Papua Barat menyebabkan ribuan rakyat Papua Barat menunggu disepanjang Sentani Air Port, rakyat Papua Barat berniat mengusung peti mayatnya secara damai sepanjang kurang lebih 50 Kilo Meter namun tak diijinkan oleh pihak aparat militer RI membuat rakyat Papua pun tak sabar memberontak, ABEPURA terbakar, kota Jayapura menjadi lumpuh total, tanah Papua menjadi tegang, kampus UNCEN pun turut berontak dimana aktifitas kota pelajarpun jadi rusuh karena teriakan tanda penghormatan didepan kampus untuk terakhir kali, teringat sangat jelas dalam ingatan saya bahwa di kota Abepura yang dikenal dengan kota pelajar dan dipagi hari yang sepi yang diselimuti suasana duka cita yang dalam dan yang tak terlukiskan, tiba-tiba berubah menjadi neraka yang mencekam dan menakutkan saat jenasah sang pahlawan melintasi kampus universitas kebanggaan masyarakat Papua-Universitas Cenderawasih(UNCEN).
Pemuda/i Papua yang selama ini terkenal dengan sifat sopan- santun dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, berubah bagaikan burung kasuari jahat yang siap menyerang dan menendang siapa saja yang melintas didepan matanya.Akhirnya banyak pemuda/pelajar mahasiswa yang lari bersembuyi ke kampung-kampung bahkan kami beberapa yang sempat melarikan diri ke Papua New Guinea, seorang dosen muda UNCEN saat itu atas nama Drs. Frans Fredrik Kapisa yang mengorganisir mahasiswa dalam rangka penjemputan jenasah turut tertangkap dan menjalani pemeriksaan di berbagai kesatuan militer, KODAM,KOPASSUS dan terakhir POLDA dan akhirnya dijebloskan dalam tahanan POLDA.
Sedangkan ditempat lainnya berhasil telah menyeberang ke Papua New Guinea, beberapa teman-teman muda lainnya harus hidup untuk beberapa bulan di markas Victoria, selanjutnya keluar menuju kamp-kamp pengungsi (Manus maupun Kiunga) dari tahun 1996 -`1999 digaris bawahi bahwa perjuangan ini perlu membutuhkan sebuah NATIONAL BODY yang mengakomodinir semua elit-elit politik Papua Barat untuk diposisikan keberadaan mereka dalam satu kesatuan gerakan nasional di era reformasi.
Saat itu tidak terpikir oleh teman-teman muda bahwa nanti akan ada kongres yang melahirkan PDP di tahun 2000.
Makanya setelah kurang lebih satu bulan keberadaan di Vanuatu di tahun 1999, Junus Wenda dan saya harus kembali dari Vanuatu ke tanah Papua Barat untuk bertemu dengan teman-teman muda lainnya di kampus Universitas Cendewarasih/ UNCEN guna memikirkan perlu adanya perbaikan kepemimpinan structural OPM.
Maksud ini tidak tercapai karena keterbatasan financial untuk menghimpun semua elit politik Papua dalam dan luar negeri.
Walaupun demikian semangat nasionalis teman-teman pada akhirnya dipikirkan oleh Solidaritas Nasional Mahasiswa Papua Barat/SONAMAPA maka lahirlah Awawi meeting tahun 2000 dalam sebuah kesepakatan untuk memposisikan srtuktural kepempimpinan dalam negeri sebagai pergerakan bagaimana pentingnya persatuan dan kesatuan nasional.
Timbul image yang di ciptakan musuh bahwa ini kelompok bintang empat belas dan itu bintang satu dan lain sebagainya yang sangat mempengaruhi openi masayarakat Papua Barat di era reformasi saat itu, terlebih lagi akan membingungkan dukungan masyarakat dunia terhadap perjuangan pembebasan Papua pada umumnya.
Latar belakang pertemuan Awawi ini sempat bisa terjadi karena sebelumnya terjadi pertemuan antara ketua Demmak Benny Wenda ,Dr. Jacob Rumbiak ( Menlu WPNA), Edison Waromi (Executive WPNA), Junus Wenda dan Herman Wainggai serta beberapa teman-teman aktifist lainnya dari SONAMAPA, AMP lainya sempat membuat meeting-meeting kordinasi di Sabron River di sentani, kemudian kelanjutan di Dok V atas, Port Numbay, West Papua.
Walaupun begitu kita semua tahu bahwa telah terbentuknya PDP di tahun 2000, dan dari internal meeting diprediksi pemuda pelajar /mahasiswa Papua Barat waktu itu masih mengsangsikan kepemimpinan PDP ? Hal ini sempat dibuktikan dengan sebuah pernyataan tertulis mosi tidak percaya yang dikeluarkan oleh bapa Mathias Wenda dari TPN OPM dan didukung oleh pergerakan SONAMAPA atau elit mahasiswa lainnya waktu itu untuk menarik diri dari PDP dan pernyataan tersebut dibacakan oleh salah satu anggota Solidaritas Nasioanal Mahasiswa Papua Barat di lapangan Trikora pada desember 2000.
Setelah pembacaan mosi tidak percaya diatas maka agenda mahasiswa pemuda pelajar selanjutnya saat itu adalah pembenahan structural kepemimpian militer TPN/PB. Pendekatan-pendekatan yang sempat dibuat termasuk kunjungan tim fasilitator Sonamapa ke kaka Nico Ipohao, Mathias Wenda, Tadius Yogi, Kelly Kwalik, Bernardus Mawen, Richard Yoweni dan juga pendekatan tim fasilitator Sonamapa meminta waktu ke petinggi -petinggi PDP waktu itu untuk berdiskusi perlu mendorong pertemuan elit tapol, bersama PDP , TPN PB OPM sampai terus berkelanjutan dari 2001 hingga 2004.
SHARING MEETING SYDNEY TAHUN 2001 :
George Aditjontro, Yohanes Bonay/Mantan Ketua Elsham Papua, Benny Giay, John Ondawame, Rex Rumaikek, Dolly Songgonao, Jacob Rumbiak dan Herman Wainggai di sebuah restoran di Sydney sehabis konferensi yang diadakan oleh Papua Project dari Sidney University di bulan Desember tahun 2001. Agenda plan membicarakan bagaimana peran pemuda pelajar dan mahasiswa mendorong adanya sebuah rekonsiliasi nasional yang nyata guna mewujudkan UNITY dan KEPEMIMPINAN NASIONAL.
Hal-hal lain yang menyangkut taktik dan strategis kita lanjutkan di flatnya Rex Rumaikek di Sydney malam itu juga.
Mungkin atau barangkali catatan saya ini sudah lama dan hampir tak lupa tentang pembicaraan diskusi malam itu di flatnya REX RUMAIKEK di Sydney pada bulan Desember tahun 2001. Ada beberapa catatan penting yang saya tulis tentang diskusi kami tentang plan taktik dan strategis di tahun 2001 - 2005 untuk difollow up. Walapun mungkin tidak ingat atau sudah lupa tapi catatan harian diary inipun tak akan di hapuskan sekalipun mungkin kita bisa lupa titik maupun koma, sebab malam itu adalah malam yang memotivasi saya untuk kembali ke tanah air/ Papua Barat esok harinya, dan selanjutnya akan bertemu teman-teman muda aktifist di Papua Barat guna mendukung dan mengiplementasikan program yang telah dibahas di Sydney saat itu demi mendukung kerja-kerja kita semua nanti nya diluar negeri khususnya di wilayah Pasifik, Australia sampai ke benua Amerika.
Sekembalinya saya dari Sydney ke Papua, saya menyampaikan hasil pembicaraan kami di Sydney kepada para aktifist pemuda pelajar mahasiswa PB dan merekapun mendukung hal tersebut. Kemudian merealisasikan pembicaraan kita maka terbentuk dan lahirlah United West Papua National Front For Independence/UWPNAFFI yang difasilitasi serta disaksikan oleh bapa Tony Bais (saat ini almarhum), Sir Michael Somare (Mantan PM PNG ), dan beberapa tokoh kunci pendiri negara PNG lainya. Setelah lahirnya UWPNAFFI para pemuda pelajar mahasiswa yakin bahwa lembaga ini akan meyakinkan para pemimpin Pasifik islands forum / PIF di Fiji pada Agustus tahun 2002 untuk menjawab penolakan PIF terhadap delegasi Papua di Nauru pada tahun 2001.
Dan benar bahwa ketika PIF berlangsung di Suva di Fiji, saat itu, delegasi Papua Barat disambut dan dihormati sehingga saat itu teringat oleh saya bahwa masalah PB berhasil dituangkan dalam komunike no 33 PIF, masalah Papua menjadi isu hangat ( Ketika itu Michael Somare di jemput oleh John Howard dari PNG ke Australia dan Fiji).
PIF tahun 2002 dihadiri oleh UWPNAFFI yang beranggotakan empat orang delegasi dari dalam negeri ( Alberth Sefnath Kaliele, Frans Kapisa, Fera Kambu dan Herman Wainggai), satu utusan PNG ( Francis Mirino Sekjen West Papua New Gunine National Congress/ WPNGNC), Rex Rumaikek dari Fiji dan Jacob Rumbiak dari Australia. Kepala surat dari dokumen yang diserahkan kepada Sekjen PIF ketika itu dan CC kepada 16 negara anggota PIF adalah United West Papua National Front For Independence. Surat ini ditanda tangani oleh masing-masing delegasi yang hadir saat itu sebagai bukti nyata kepada 16 negara anggota PIF bahwa rakyat Papua telah memenuhi tuntutan internasional yakni Unity dan Political Leadership. Kehadiran delegasi UWPNAFFI di terima, di hormati dan dihargai saat ke Fiji saat itu, dan delegasi PB memiliki penghormatan tersendiri ketika diundang oleh mantan PM Fiji saat itu, Laisena. Hal ini merupakan modal dasar untuk kesekian kali lagi perjuangan diplomasi Papua Barat dimulai dari kawasan di pasifik dan Australia khususnya.
Setahun kemudian, ketika delegasi PB mengahadiri PIF di Auckland, New Zealand pada tahun 2003, masalah Papua Barat menjadi perdebatan hangat yang kemudian mendapat tempat diberbagai media-media elektronik dan cetak di New Zealand dn Pasifik. ( Masih teringat jelas surat khabar terkemuka di New Zealand halaman terdepan mengekspos perjuangan Papua Barat yang tercover bagian depan photo kaka Jacob Rumbiak memakai cawat / pakaian traditional PB dimana photo Jacob Rumbiak sengaja dibuat oleh photo jurnalis ketika itu lebih besar dari photo PM Australia John Howard , PM Helen Clark dari New Zeland dan PM Laisenia Carase dari Fiji.
Nama UWPNAFFI dirubah menjadi United West Papua National Council for Independence (UWPNACI) pada 2004 atas saran para pakar hukum dan politik internasional yang adalah staf ahli dan patron dari pada UWPNAFFI sebagai upaya menghindari kecurigaan negara-negara besar seperti USA dn sekutunya terhadap network terrorist, karena pada umumnya istilah front digunakan oleh kelompok-kelompok yang diklasifikasikan sebagai kelompok terrorist.
Pertemuan guna membahas perubahan kata dari front ke Council ketika itu terjadi kemblai lagi di Wewak di bulan July tahun 2004 dan turut hadir Filep Karma, Jusak Pakage, 2 anggota perwakilan AMP lainya, Sonamapa, perwakilan Tapol serta anggota perwakilan TPN/PB di PNG lainnya.
Tindak lanjut dari semua ini, teman-teman/ pemuda pelajar dan mahasiswa melihat dan merasakan adanya sebuah kemajuan kearah pemenuhan syarat berdirinya sebuah Negara maka dideklarasikannya West Papua National Authority yang adalah political transition government Papua Barat yang telah memiliki Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif pada saat itu atau kini dimana beberapa minggu yang lalu WPNA menjadi perhatian dan pembahasan serius pemerintah daerah tingkat propinsi Papua di tanah Papua dan pemerintah RI di Jakarta kususnya: Kemudian dilanjutkan dengan sangat jelas melalui Kopassus report, Badan Inteljen Nasional Indonesia atas nama pemerintah Indonesia mendeteksi aktifitas political movement Otoritas Nasional Papua Barat dan sempat dipublikasikan oleh beberapa surat khabar/Newspaper terkemuka di Australia dan jaringa media luar negeri umumnya
Alasan kuat pemerintah Jakarta menilai aktifitas politik perjuangan rakyat Papua Barat selama ini bersama elit elit pemimpin WPNA adalah sudah tentu menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI karena :
· WPNA menunjukan EMBRIO lahirnya SEBUAH NEGARA BARU PAPUA BARAT sangat jelas dan terbuka.
· WPNA memperlihatkan kepada Jakarta , Canberra, Washington. D.C dan masyarakat dunia atas posisi WPNA selaku provisional government berdasarkan teori Montesque (Eksecuitve, Legislative dan Judikatif). Artinya Kepemimpinan politik EXECUTIVE, LEGISLATIVE dan JUDIKATIF WPNA yan diketahui sangat jelas oleh kita semua bahwa kepemimpinan politik WPNA tidak pernah lari ke luar negeri, hutan rimba atau sembunyi-sembunyi kecuali pihak militer di hutan rimba Papua dan departemen urusan luar negeri bisa berkedudukan di luar negeri. Disitulah kunci perhitungan pemerintah Jakarta kepada WPNA. (Pelajari hubungan pihak Indonesia dan pemerintahan di Timor Leste).
· Jakarta paham benar bahwa kepemimpinan WPNA seluruhnya adalah bekas tahanan politik yang baru dibebaskan disaat reformasi merebak di tahun 1999 di Indonesia . Elit kepemimpinan WPNA ini disaat SOEHARTO/Order Baru/ORBA dan sisa-sisa pejabat ORBA yang masih ada didalam pemerintahan reformasi Indonesia saat ini masih segar ingatan mereka terhadap para elit WPNA yang adalah bekas TAPOL diatas 10 ( sepuluh) tahun penjara yang pernah berembuk terhadap proses penyelesaian status politik PB saat mereka di BUI/Prison dan dibebaskan tanpa syarat atas nasehat AMNESTY INTERNASIONAL.
Kesimpulan sementara berdasarkan point-point tersebut diatas maka membuat pemerintah Jakarta sangat segan dan berhati-hati menindak kepemimpinan WPNA, dan disitulah kredibilitas WPNA yang sangat diperhitungkan oleh pemerintah Republik Indonesia .
Akankah pemerintah Jakarta melarang pesta demokrasi rakyat Papua Barat dan penegakan nilai-nilaii HAM pada bulan Okotober nantinya?
.........................................................................
Oleh;Herman Wainggai
sumber: facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar